wahyu dwi a

goresan kecilkuu..
RSS icon Email icon Home icon
  • PERAN STAKEHOLDER DALAM PENYAKIT

    Posted on November 13th, 2010 w.dwi-atmiyati No comments

    Masalah – masalah kesehatan sangat kompleks dan tidak dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan semata, sehingga diperlukan pemecahan masalah bersama dengan kontribusi sektor lain maupun stakeholders (pihak yang berkepentingan). Dalam penyelesaiannya ini tidak hanya dilakukan oleh sector kesehatan saja, pihak yang berkepentingan/Stakeholder yang terlibat dalam program diseminasi,
    a. Malaria, Stakeholdernya :
    1. Dinas Kesehatan
    • P2P (Program Pemberantasan Penyakit )
    orang-orang didalam lingkup P2P mereka akan bertindak memberantas penyakit malaria dilihat dari vektor nyamuknya.
    • Sanitasi Lingkungan
    orang-orang didalam lingkup sanitasi lingkungan akan membenahi sistem sanitasi di daerah yang bermasalah, contohnya daerah yang memiliki genangan air limbah domestik yang tidak tepat maka sanitarian berhak memikirkan masalah ini.
    • Promosi Kesehatan
    Divisi ini berperan mempromosikan hidup sehat agar terhindar dari penyakit malaria. Contohnya mempromosikan bersih-bersih selokan atau parit, membabat tanaman-tanaman yang terlalau lebat (yang berpotensi sebagai habitat nyamuk Anopheles).
    2. Pemerintahan
    • Bupati
    memberikan surat keputusan atau kebijakan kepada setiap kecamatan agar berperan aktif dalam pemberantasan penyakit malaria.
    • Kecamatan
    memberikan surat keputusan atau kebijakan dari bupati kepada desa / kelurahan.
    • Kelurahan
    melaksanakan surat keptusan atau kebijakan mengenai pemberantasan malaria dengan cara memberitahukan kepada perangkat desa, dan organisasi sosial yang ada, seperti posyandu, PKK, dan perkumpulan-perkumpulan yang lain.
    • Dinas Perkebunan
    Dinas perkebunan berperan dalam penataan tanaman perkebunan, sehingga dapat mengurangi habitat nyamuk Anopheles.

    b. Stakeholder dan Peranan Stakeholder Dalam Mengatasi PD3I
    Penyakit Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) seperti TBC, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus serta hepatitis B merupakan salah satu penyebab tingginya angka kematian anak di Indonesia. Salah satu contohnya adalah penyakit polio. Gejala yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak mendadak lumpuh pada salah satu anggota geraknya setelah demam selama 2-5 hari. Terdapat 2 jenis vaksin yang beredar, dan di Indonesia yang umum diberikan adalah vaksin Sabin (kuman yang dilemahkan). Cara pemberiannya melalui mulut. Di beberapa negara dikenal pula Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT dan polio. Imunisasi dasar diberikan sejak anak baru lahir atau berumur beberapa hari dan selanjutnya diberikan setiap 4-6 minggu. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis B, dan DPT. Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT Pemberian imunisasi polio akan menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit Poliomielitis. Imunisasi polio diberikan sebanyak empat kali dengan selang waktu tidak kurang dari satu bulan
    imunisasi ulangan dapat diberikan sebelum anak masuk sekolah ( 5 – 6 tahun ) dan saat meninggalkan sekolah dasar ( 12 tahun ).Cara memberikan imunisasi polio adalah dengan meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung kedalam mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang dicampur dengan gula manis. Imunisasi ini jangan diberikan pada anak yang lagi diare berat. Efek samping yang mungkin terjadi sangat minimal dapat berupa kejang-kejang. Berdasarkan informasi diatas dapat diketahui bahwa imunisasi polio dilakukan pada anak baru lahir dan anak usia sekolah, maka diperlukan kerjasama dengan beberapa stake holder, diantaranya:
    1. Dinas Pendidikan
    Peran Dinas pendidikan dalam hal ini adalah membuat kebijakan tentang imunisasi di sekolah yang pelaksanaannya akan dilakukan oleh Dinas Kesehatan
    2. Dinas Kesehatan
    Sebagai pelaksanan utama dari program PD3I melalui beberapa program antara lain:
    • Program KIA
    Program imunisasi termasuk program kerja KIA yang sudah memiliki ketentuan dan jadwal.
    • Program promosi kesehatan
    Didalam pelaksanaan imunisasi Program KIA membutuhkan bantuan orang-orang Promosi Kesehatan untuk mensosialisasikan pentingnya imunisasi kepada masyarakat.
    • Program pemberantasan penyakit
    Polio merupakan salah satu penyakit yang termasuk dalam program pemberantasan penyakit . salah satu metode pemberantasan penyakit polio adalah dengan imunisasi., oleh karena itu Program pemberantasan penyakit membutuhkan KIA karena cakupan dari imunisasi polio adalah anak-anak.
    3. Posyandu
    Posyandu sebagai pelaksana program kesehatan Ibu dan anak di masyarakat. Setiap desa memiliki kader posyandu yang berfungsi mensosialisasikan dan melaksanakan program KIA(imunisasi) di desa tersebut. masyarakat lebih mudah didekati oleh para kader dari desa mereka sendiri dari pada petugas kesehatan.
    4. PKK
    Sasaran imunisasi mayoritas merupakan bayi dan anak usia sekolah dimana ibu memiliki peranan penting dalam menyukseskan imunisasi tersebut, pengetahuan ibu tentang imunisasi dapat empengaruhi kesediaan ibu untuk mengimunisasikan anaknya. Peran ibu –ibu PKK adalah untuk memberikan pemahaman kepada warganya (ibu-ibu) tentang imunisasi. Namun sebelumnya ibu- ibu PKK terlebih dahulu diberi pengetahuan mengenai imunisasi dari puskesmas atau petugas kesehatan

  • DESAIN PENELITIAN

    Posted on October 31st, 2010 w.dwi-atmiyati No comments

    JENIS DESAIN PENELITIAN

    PENELITIAN CROSS SECTIONAL
    a) Penjelasan Penelitian Cross Sectional

    Penelitian yang mengukur prevalensi penyakit. Oleh karena itu seringkali disebut sebagai penelitian prevalensi. Bertujuan untuk mempelajari hubungan penyakit dengan paparan dengan cara mengamati status paparan dan penyakit secara serentak pada individu dan populasi tunggal pada satu saat atau periode tertentu. Relatif lebih mudah dan murah untuk dikerjakan oleh peneliti dan amat berguna bagi penemuan pemapar yang terikat erat pada karakteristik masing-masing individu. Data yang berasal dari penelitian ini bermanfaat untuk: menaksir besarnya kebutuhan di bidang pelayanan kesehatan dan populasi tersebut. instrumen yang sering digunakan untuk memperoleh data dilakukan melalui:
    • Survey
    • Wawancara
    • dan isian kuesioner
    Variabel bebas (faktor risiko) dan variabel tergantung (efek) diobservasi hanya sekali pada saat yang sama.

     Langkah-langkah Penelitian Cross Sectional :
    > Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis yang sesuai
    > Mengidentifikasi variabel penelitian
    > Menetapkan subjek penelitian
    > Melakukan observasi/ pengukuran
    > Melakukan analisis

     Ciri-ciri Penelitian Cross Sectional
    • Observasi terhadap variabel bebas (faktor risiko) dan terikat (efek) dilakukan satu kali, pada saat yang sama.
    • Dapat untuk deskriptif maupun analitik
    • Dapat diketahui jumlah subyek yg mengalami efek pada kelompok yg mempunyai faktor risiko dan yang tidak.
    • Rasio prevalens menggambarkan peran faktor risiko terhadap terjadinya efek.
    • Paling sering digunakan untuk studi klinik/lapangan

    b) Kelebihan dan Kelemahan Penelitian Cross Sectional
     Kelebihan :
    • Mudah, ekonomis, hasil cepat didapat
    • Dapat meneliti banyak variabel sekaligus
    • Kemungkinan subjek “drop out” kecil
    • Tidak banyak hambatan etik
    • Dapat sebagai dasar penelitian selanjutnya.

     Kelemahan :
    • Sulit menetapkan mekanisme sebab akibat
    • Subjek penelitian cukup besar terutama bila variabel banyak dan faktor risk relatif jarang ditemukan
    • Kurang tepat untuk mempelajari penyakit dengan kurun waktu sakit pendek
    • Kesimpulan korelasi paling lemah dibanding case control atau cohort
    • Tidak dapat menggambarkan perjalanan penyakit  faktor risiko, diagnosis, prognosis.

    c) Contoh Penyakit Tidak Menular dalam Penelitian ini
    Penelitian yang akan memmbuktikan hubungan antara tumbuh kembang anak dengan pemberian ASI eksklusif.

    PENELITIAN CASE CONTROL
    a) Penjelasan Penelitian Case Control
    Rancangan epidemiologis yang mempelajari hubungan antara paparan (amatan penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya. Mempelajari seberapa jauh f risiko mempengaruhi terjadinya efek. f risk dipelajari melalui pendekatan retrospektif efek diidentifikasi saat ini, f risk diidentifikasi masa lalu.

    Langkah-langkah Case Control :
    o Menetapkan pertanyaan penelitian dan hipotesis yang sesuai
    o Menetapkan variabel penelitian
    o Menetapkan subjek penelitian
    o Melakukan pengukuran variabel
    o Analisis hasil

    Ciri-ciri Penelitian Case Control
    Pemilihan subyek berdasarkan status penyakitnya, untuk kemudian dilakukan amatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar atau tidak. Subyek yang didiagnosis menderita penyakit disebut: Kasus berupa insidensi yang muncul dan populasi, sedangkan subyek yang tidak menderita disebut Kontrol.Jenis penelitian ini dapat saja berupa penelitian restrospektif bila peneliti melihat ke belakang dengan menggunakan data yang berasal dari masa lalu atau bersifat prospektif bila pengumpulan data berlangsung secara berkesinambungan sering dengan berjalannya waktu. Idealnya penelitian kasus kontrol itu menggunakan kasus (insiden) baru untuk mencegah adanya kesulitan dalam menguraikan faktor yang berhubungan dengan penyebab dan kelangsungan hidup.

    Karakteristik Penelitian Case Control
    o Merupakan penelitian observasional yang bersifat retrospektif
    o Penelitian diawali dengan kelompok kasus dan kelompok kontrol
    o Kelompok kontrol digunakan untuk memperkuat ada tidaknya hubungan sebab-akibat
    o Terdapat hipotesis spesifik yang akan diuji secara statistik

    b) Kelebihan dan Kelemahan Penelitian Case Control
    Kelebihan :
    • Cocok untuk mempelajari penyakit yg jarang ditemukan
    • Hasil cepat, ekonomis
    • Subjek penelitian bisa lebih sedikit
    • Memungkinkan mengetahui sejumlah faktor risiko yang mungkin berhubungan dengan penyakit
    • Kesimpulan korelasi > baik, krn ada pembatasan dan pengendalian f risk
    • Tidak mengalami kendala etik.
    Kelemahan :
    • Bias
    • Tdk diketh pengaruh variabel luar yg tak terkendali dgn teknik matching
    • Pemilihan kontrol dgn mathcing akan sulit bila faktor risiko yg di “matching”kan banyak
    • Kelompok kasus dan kontrol tidak random  apakah faktor luar seimbang?

    c) Contoh Penyakit Tidak Menular dalam Penelitian ini
    Penelitian kasus kontrol tentang hubungan antara rokok dan kanker paru-paru dengan menggunakan pendekatan atau rancangan prospektif.

    PENELITIAN KOHORT
    a) Penjelasan Penelitian Kohort
    Rancangan penelitian epidemiologi analitik observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar berdasarkan status penyakit.

    Langkah-langkah Penelitian Kohort
     merumuskan pertanyaan penelitian
     penetapan populasi kohor
     besarnya sampel
     sumber keterangan keterpaparan
     Identifikasi subjek

    Ciri- ciri Penelitian Kohort :
    Pemilihan subyek berdasarkan status paparannya, kemudian dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah subyek mengalami outcome yang diamati atau tidak. Bisa bersifat retrospektif atau prospektif.

    Karakteristik Penelitian Kohort :
     Bersifat observasional
     Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat
     Disebut sebagai studi insidens
     Terdapat kelompok kontrol
     Terdapat hipotesis spesifik
     Dapat bersifat prospektif ataupun retrospektif
     Untuk kohor retrospektif, sumber datanya menggunakan data sekunder.

    b) Keuntungan dan Kelemahan Penelitian Kohort
    Keuntungan :
     Kesesuaian dengan logika normal dalam membuat inferensi kausal
     Dapat menghitung laju insidensi
     Untuk meneliti paparan langka
     Dapat mempelajari beberapa akibat dari suatu paparan
    Kelemahan :
     Lebih mahal dan butuh waktu lama
     Pada kohort retrospektif, butuh data sekunder yang lengkap dan handal
     Tidak efisien dan tidak praktis untuk kasus penyakit langka
     Risiko untuk hilangnya subyek selama penelitian, karena migrasi, partisipasi rendah atau meninggal.

    c) Contoh Penyakit Tidak Menular dalam Penelitian ini
    Penelitian tentang hubungan antara disminor dengan pemakaian terapi musik.

  • Ukuran-ukuran Epidemiologi

    Posted on October 20th, 2010 w.dwi-atmiyati No comments

    Ukuran Frekuensi Penyakit

    Yaitu mengukur kejadian penyakit, cacad ataupun kematian pada populasi. Merupakan dasar dari epidemiologi deskriptif. Frekuensi kejadian yang diamati diukur dengan menggunakan Prevalens dan Incidens.

    1) Prevalensi

    Merupakan proporsi individu dalam populasi yang mengalami penyakit atau kondisi lainnya pada suatu periode waktu tertentu.

    Manfaat prevalensi :

    # Mendeskripsikan beban penyakit pada populasi

    # Mendeskripsikan status penyakit pada populasi

    # Menaksir frekuensi paparan

    # Menaksir kebutuhan pelayanan kesehatan untuk individu-individu yang terkena penyakit

    2) Insidence (menggambarkan jumlah kasus baru yang terjadi dalam satu periode tertentu)

    1. a. Cumulative insidence : mengukur risiko untuk sakit

    * Probabilitas dari seorang yang tidak sakit untuk menjadi sakit selama periode waktu tertentu, dengan syarat orang tersebut tidak mati oleh karena penyebab lain.
    * Risiko ini biasanya digunakan untuk mengukur serangan penyakit yang pertama pada orang sehat tersebut.
    * Misalnya : Insidens penyakit jantung mengukur risiko serangan penyakit jantung pertama pada orang yang belum pernah menderita penyakit jantung.

    1. b. Insidence rate (insidence density) : mengukur kecepatan untuk sakit

    * Insidens rate dari kejadian penyakit adalah potensi perubahan status penyakit per satuan waktu, relative terhadap besarnya populasi individu yang sehat pada waktu itu
    * Menyatakan suatu jumlah kasus baru per orang-waktu
    * Jumlah orang yang berpindah status dari tidak sakit ke status sakit selama periode waktu tertentu merupakan hasil paduan antara tiga faktor, yaitu ukuran besarnya populasi, lama periode pengamatan, kekuatan penyebaran penyakit (force of morbidity.

  • Kriteria kausalitas menurut Bradford Hill

    Posted on October 17th, 2010 w.dwi-atmiyati No comments

    Kriteria kausalitas menurut Bradford Hill :
    Bradford Hill (1897-1991) membuat kriteria dari suatu faktor sehingga faktor tersebut dapat dikatakan sebagai faktor yang mempunyai hubungan kausal.
    Kriteria tersebut adalah :
    1. Kekuatan asosiasi
    2. Konsistensi
    3. Spesifisitas
    4. Hubungan temporal
    5. Efek dosis respon
    6. Biologic plausibility (masuk akal)
    7. Koherensi bukti-bukti
    8. Bukti Eksperimen
    9. Analogi
    Penjelasan Kriteria Bradford Hill
    1. Kekuatan asosiasi
    Semakin kuat asosiasi, maka emain sedikit hal tersebut dapat merefleksikan pengaruh dari faktor-faktor etiologis lainnya. Kriteria ini membutuhkan juga presisi statistik (pengaruh minimal dari kesempatan) dan kekakuan metodologis dari kajian-kajian yang ada terhadap bias (seleksi, informasi, dan kekacauan).
    2. Konsistensi
    Replikasi dari temuan oleh investigator yang berbeda, saat yang berbeda, dalam tempat yang berbeda, dengan memakai metode berbeda dan kemampuan untuk menjelaskan dengan meyakinkan jika hasilnya berbeda.
    3. Spesifisitas dari asosiasi
    Ada hubungan yang melekat antara spesifisitas dan kekuatan yang mana semakin akurat dalam mendefinisikan penyakit dan penularannya, semakin juat hubungan yang diamati tersebut. Tetapi, fakta bahwa satu agen berkontribusi terhadap penyakit-penyakit beragam bukan merupakan bukti yang melawan peran dari setiap penyakit.
    4. Temporalitas
    Kemampuan untuk mendirikan kausa dugaan bahka pada saat efek sementara diperkirakan.
    5. Tahapan biologis
    Perubahan yang meningkat dalam konjungsi dengan perubahan kecocokan dalam penularan verifikasi terhadap hubungan dosis-respon konsisten dengan model konseptual yang dihipotesakan.
    6. Masuk akal
    Lebih siap untuk menerima kasus dengan hubungan yang konsisten dengan pengetahuan dan keyakinan kami secara umum. Telah jelas bahwa kecenderungan ini memiliki lubang-lugang kosong, tetapi akal sehat selalu saja membimbing kita.
    7. Koherensi
    Bagaimana semua observasi dapat cocok dengan model yang dihipotesakan untuk membentuk gambaran yang koheren?
    8. Eksperimen
    Demonstrasi yang berada dalam kondisi yang terkontrol merubah kausa bukaan untuk hasil yang merupakan nilai yang besar, beberapa orang mungkin, mengatakannya sangat diperlukan, untuk menyimpulkan kausalitas.
    9. Analogi
    Lebih siap lagi untuk menerima argumentasi-argumentasi yang menyerupai dengan yang kami dapatkan.

  • PEMBANGUNAN KESEHATAN BERBASIS PREVENTIF DAN PROMOTIF

    Posted on March 28th, 2010 w.dwi-atmiyati No comments

    PEMBANGUNAN KESEHATAN BERBASIS PREVENTIF DAN PROMOTIF

    Dalam Semnas dengan Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih,MPH, Dr.PH

    Sabtu 13 Maret 2010

    Untuk mewujudkan SDM yang derkualitas dan berdaya saing, kata Menkes pembangunan kesehatan diarahkan pada peningkatan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidupsehat bagi semua orang sehingga drajat kesehatan masyarakat dapat terwujud setinggi-tingginya.

    Menkes mengatakan pembangunan kesehatan tahun 2005-2025 memberikan perhatian kusus pada penduduk rentan antaranya: ibu, bayi,anak, usia lanjut, dan keluarga miskin.sasaran pembangunan kesehatan pada akir 2014 melalui percepatan pencapaian MDG’s yaitu;

    1. Meningkatkan umur harapan hidup menjadi 72 tahun
    2. Menurunya angka kematian bayi menjadi 24 per 1000 kelahiran hidup
    3. Angka kematian ibu melairkan menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup
    4. Menurunnya prevalensi gizi kurang pada pada balita menjadi lebih kecil 15%

    Pada kurun waktu terakhir ini setiap harinya, setiap individu, keluarga dan kelompokmasyarakat semakin menggantungkan pada pelayanan kesehatan dasar yang semakin kompleks. Merka semua tergantung pada berbagai upaya kesehatan , bukan saja untuk bertahan dari survival, untuk tumbuh dan bekembang secara fisik, mental, dan intelektual namun juga untuk memperoleh perlimdungan kesehatan. Di Indonesia ini telah didirikan 8.548 puskesmas, 22.337 puskesmas pembantu yang didukung oleh 6711 puskesmas keliling roda 4 dan 858 puskesmas keliling perahu. Selain itu talah ada 269.000 posyandu, 52.000 puskesdes dan 1000 poskestren, ujar Menkes. Ditambahkannya lagi, bahwa pelayanan kesehatan dasar harus terselenggara atau tersedia untuk menjamin hak asasi manusia untuk hidup sehat.

    Kementerian Kesehatan sedang dalam proses melakukan revitalisasi Puskesmas untuk menetapkan fungsi puskesmas yang dapat menjawab arah kebijakan pembangunan kesehatan yang mengutamakan promotif dan promotif dengan tanpa mengabaikan upaya reaktif dan rehabiltatif. Menurut Menkes ada 4 fungsi puskesmas yang sejalan dengan focus pembangunan kesehatan yaitu,

    • Sebagai pusat pembangunan wilayah berwawasan kesehatan
    • Pusat pemberdayaan masyarakat
    • Pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer
    • Pusat pelayanan kesehatan perorangan primer

    Berdasarkan aspek kelembagaan, puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota dengan prinsip kewilayahan. Suksesnya pelaksanaan tugas puskesmas perlu didukung jejaringan rujukan dan pembinaan karena Revitalisasi puskesmas tidak akan berhasil tanpa penguatan kabupaten/kota baik dinas kesehatan maupun rumah sakit. Puskesmas mendapat pelimpahan kewenangan untuk melaksanakan tugas kabupaten/kota,tapi bukan berarti kabupaten/kota tidak memiliki tugas sama sekali. Menkes mengatakan pembangunan kesehatan tidak akan berhasil tanpa peran aktif dari semua pelaku pembangunan kesehatan , termasuk semua jajaran insan perguruan tinggi maupun organisasi profesi, termasuk ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia. Menkes berharap agar perguruan tinggi dan IAKMI dapat berperan aktif dan berkontribusi positif dalam pembangunan kesehatan.

    komentar penulis : menurut saya apa yang di upayakan oleh menkes sudah sangat bagus. hanya saja disini adanya puskesmas itu harus tepat guna, dan tentunya mudah dijangkau oleh masyarakat, sehingga puskesmas maju. anggaran negara untuk sektor kesehatan harus di tingkatkan agar dapat lebih menunjang perkembangan kesehatan di indonesia. sayangnya dalam seminar kali ini menkes hanya menyampaikan hal-hal yang masih sedikit dan kurang efektif bagi pesertanya, sehingga apa yang harus di dipahami menjadi berkurang.

  • Hello world!

    Posted on March 17th, 2010 w.dwi-atmiyati 1 comment

    Welcome to Diponegoro Student Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!